Salah satu yang paling menarik atas masifnya penggunaan teknologi dan internet di Indonesia adalah tren startup digital. Melalui pendekatan modern, para inovator mencoba memahami dan menyelesaikan ragam masalah yang ada di masyarakat. Sepak terjangnya kini masif di semua lini kehidupan, sehingga kadang menjadi sebuah disrupsi untuk berbagai tatanan bisnis yang sudah ada. Menjadi sebuah langkah positif, mengingat startup (tergolong ke dalam UKM) memberikan sumbangsih yang cukup signifikan terhadap perekonomian negara.
Di kalangan anak muda, startup juga menjadi salah satu tolok ukur keren masa kini. Ada sebuah pernyataan unik yang dikutip dari status Facebook salah satu pendiri Weekend Inc, Richard Fang.

Nah, untuk bisa mengikuti tren positif tersebut, perlu dipahami bagaimana sistem kerja dalam startup bergerak dan cara-cara menyiasatinya. Khususnya bagi yang masih pemula dan baru berkecimpung dalam industri digital. Setidaknya ada tiga poin penting tentang produktivitas dan teknologi yang perlu dipahami dengan baik, berikut ulasannya.
Startup bergerak cepat, karena industrinya dinamis
Ciri khas dari sebuah produk digital adalah memiliki dinamika yang sangat cepat. Sebagai ilustrasi sederhana, ponsel pintar paling anyar yang dibeli hari ini dalam waktu beberapa bulan atau bahkan beberapa minggu mendatang sudah kelihatan biasa saja, karena versi baru dari perangkat tersebut hadir dengan ragam fitur baru yang dimiliki. Pun demikian dengan karakteristik penggunanya, selalu berambisi mendapatkan model layanan atau produk teranyar, selain lebih bagus umumnya memberikan kemudahan dalam berbagai hal.
Ini tantangan pertama yang harus dicamkan oleh seorang pendiri startup digital. Jadi kurang tepat jika menganggap bekerja di startup justru lebih santai. Bermain di area digital mau tak mau harus mengikuti perkembangannya. Kendati demikian, tuntutan tersebut berjalan mengikuti alur proses sebuah product lifecycle. Contohnya, startup pengembang sistem Online Travel Agency (OTA), pertama mereka banyak memfokuskan pada sistem berbasis web, karena efisien membuat masyarakat nyaman, dari membeli tiket di gerai fisik menjadi hanya cukup melalui komputer.
Selanjutnya tren tersebut berubah, kini orang mulai nyaman menggunakan mobile apps, sehingga startup OTA mati-matian menyuguhkan model aplikasi yang paling nyaman untuk diakses ke ponsel pintar. Tidak berhenti di sini, konon ke depan artificial intelligence akan menjadi dominan, layanan model chatbot akan diminati sebagai asisten virtual untuk membantu orang ketika membutuhkan sesuatu. Pergerakan itu konsisten, hanya saja terukur, sehingga dapat disiasati dengan model kerja yang tepat dalam tubuh startup.
Pengusaha mengandalkan teknologi di luar dan di dalam
Poin sebelumnya mengindikasikan secara jelas, bagaimana pelaku startup atau pengusaha di bidang teknologi harus sangat sigap menyiasati perubahan. Implikasinya sistem bisnis harus mampu berakselerasi dengan cepat, salah satu cara terbaiknya ialah dengan mengefisiensikan sistem di dalam bisnis itu sendiri. Di sini teknologi berperan sama seperti dengan visi produk sebuah startup digital, menyederhanakan proses. Sehingga pemanfaatan teknologi untuk kegiatan bisnis sehari-hari perlu dioptimalkan, dari hal yang sederhana hingga yang memiliki kompleksitas tertinggi.
Berikut ini beberapa hal terkait implementasi teknologi dalam sebuah sistem bisnis:
- Implementasi tahap awal; di sini teknologi mulai diterapkan untuk sistem komunikasi dan kolaborasi antar anggota tim. Beberapa alat yang dapat diimplementasikan misalnya sistem komunikasi terpadu (contoh: Slack, Facebook Workspace dll), sistem penugasan bersama (contoh: Trello, Wunderlist dll), sistem pengelolaan pekerjaan (contoh: DropBox, Github dll).
- Implementasi tahap menengah; di sini teknologi mulai diterapkan untuk sistem bisnis yang melibatkan konsumen dan rekanan di luar tim. Beberapa alat yang dapat diimplementasikan misalnya sistem Customer Relationship Management (contoh: Salesforce, Dynamic365 dll), sistem pengaduan online (contoh: Zendesk, Zoho dll).
- Implementasi tahap menyeluruh; dalam tahap ini startup bisa dikatakan telah berjalan di awan, karena sistem bisnis sudah tidak lagi mengandalkan di mana pekerja tersebut berada. Hanya cukup diakses melalui sebuah alat komputasi. Di tahap ini, seluruh operasional seperti manajemen pegawai hingga finansial semua dapat dikerjakan melalui aplikasi pembantu.
Semua itu tujuannya adalah membuat startup fokus pada pengembangan dan penyampaian produk utama mereka. Tidak dipusingkan dengan berbagai kegiatan operasional yang menjadi komponen pendukung bisnis. Sehingga produk yang dikembangkan bisa lebih peka dengan berbagai pembaruan, sesuai kebutuhan atau karakteristik dari pelanggan.
Co-Working Space markas terbaik startup tahap awal
Kini sistem kerja sudah berada di awan, sehingga membuat pelaku startup bisa fleksibel untuk kerja di mana saja. Co-Working Space menjadi salah satu opsi yang dipilih, karena menjadi sebuah ruangan dengan fasilitas plus untuk pelaku bisnis dalam mengakselerasi langkahnya –selain memberikan fasilitas umum untuk bekerja. Memilih Co-Working Space sesuai karakteristik bisnis bisa menjadi sebuah terobosan strategis. Untuk startup digital, sangat disarankan berada di Co-Working Space yang juga mendukung tipikal bisnis tersebut.
Dari beberapa Co-Working Space yang ada di Jakarta, EV Hive menjadi ruang kerja yang sangat inline dengan bisnis digital. EV Hive didukung oleh perusahaan ventura yang fokus berinvestasi pada startup digital. Sehingga berdampak pada kultur yang ada di lingkungannya, dalam hal memfasilitasi ruang kerja pengusaha digital dan proses edukasi. Saat ini EV Hive sudah ada di beberapa lokasi strategis, mulai dari Kuningan, Kebayoran Baru, Karet, hingga BSD City. Selengkapnya bisa dilihat ke laman resminya di https://evhive.co.

Caption: Salah satu aktivitas pengembangan diri di EV Hive / EV Hive
Faktor edukasi tadi justru menjadi pertimbangan penting sebuah startup untuk berada di Co-Working Space. Kesempatan untuk menjalin networking dengan berbagai pihak pendukung bisnis startup sangat mungkin terjadi. Seperti EV Hive bahkan menyediakan program khusus untuk pengembangan dan sesi yang memungkinkan para pengusaha untuk mengembangkan koneksinya. Sinergi yang erat dengan lingkungan Co-Working Space juga secara natural dapat memperluas cara pandang kaitannya dengan pengembangan bisnis startup digital.
Setelah beberapa hal di atas dipraktikkan dengan baik, bersiaplah, startup akan bergerak lebih kencang dengan akselerasi bisnis yang lebih efisien. Selamat mencoba, atau mulai mengubah kultur startup yang sudah ada.
