Di Indonesia, yang kaitannya dengan perjuangan merebut kemerdekaan maka tidaklah asing dengan sosok Bung Karno, bahkan ia yang terpopuler. Di dunia sofware pun demikian, ada sosok yang terpopuler seperti Bung Karno, dia Linus Torvalds. Mereka berdua sama-sama sosok yang memiliki kharisma yang kuat, suaranya tak diabaikan rakyat dan merupakan sosok pemimpin yang enggan/rendah hati. Linus sangat nerkaitan dengan stereotipe geek (hacker). Penampilannya sering dikatakan seperti orang kolot, penampilan yang rapi dengan kaca mata. Tapi jangan salah, dialah uber-geek, bosnya pada geek.
Ketika linus menjadi seorang mahasiswa di Universitas Helsinki, Finlandia. Dia tinggal di sebuah asrama dekat kampus. Saat itu Linus sedang gandrung melakukan pengembangan komputer Minix (OS sejenis Unix) yang berada di kampus. Ketika musin dingin tiba, di Finlandia terjadi hujan salju yang cukup lebat dan udara pun membeku menjadikan Linus tidak bisa bolak-balik ke kampus untuk mengakses Minix yang ada di kampus. Karena keadaan itu akhirnya terlintas di benak Linus untuk menciptakan sistem operasi, yang kemudian diberi nama Linux.
Linus adalah seorang mahasiswa ilmu komputer. Pada awalnya Linus memberli komputer IBM-PC Intel 80386. Seperti layaknya seorang mahasiswa, maka hal yang pertama di gandrungsi dengan komputernya ialah game, pada waktu itu Linus sangat suka dengan game petualangan, seperti Prince of Persia. Saat mendapat Minix Linus berhenti menjadi maniak game. Kemudian Linus lebih sering mengotak-atik Minixnya, kemudian Linus membuat sendiri suatu operating system mirip Minix. Pada waktu itu dia mengajukan pertanyaan di forum USENET dengan judul sederhana, yang kurang lebih artinya "Apa yang paling anda inginkan di Minix?"
Isi pesan itu adalah mengajak pengguna USENET untuk berkontribusi terhadao sistem operasi mirip Minix yang dikembangkannya. Sistem operasi buatan Linus diletakkan pada sebuah server yang dikelola teman Linus yang bernama Ari Lemmke.
Ari Lemmke merupakan orang yang memberikan direktori bernama Linux yang digunkan Linus. Sebelumnya Linus ingin memberi nama Freax (Free yang artinya bebas ditambah dengan X yang menyatakan mirip Unix). Tapi karena lebih populer dengan nama Linux, Linus pun menggunakannya.
Linus memulai revolusi dengan menyediakan kode penyusunan kernel dari Linus untuk publik. Linus mengijinkan siapapun menggunakan dan mengembangkan kode tersebut selagi todak melanggat aturan dalam GOL (GNU General Public License). Mematuhi GPL diantaranya menyerahkan kembali kode yang dikembangkan untuk dimodifikasi bersama dengan pengguna lain.
Pada saat belasan tahun ia pernah mengunjungi sebuah kebun bintanag di Finlandia dan mengalami insiden yang kurang menyengkan. Linus dipatuk seekor pinguin. Hal ini menjadikan inspirasi untuk menjadikan pingun sebagai icon Linux. Pada tahun 1996, saat Linux memuncak di kalangan hacker dan pengembang, mereka ingin menjadikan logo resmi Linux. Lalu diadakan kontest secara online, kentes pembuatan logo Linux. Tovalds memilih logo pinguin gendut yang digarap oleh Tux. Para pecinta Linux pun menanggapinya dengan senang, dan akhirnya lambang tersebut diresmikan sebagai maskot OS open source tersebut.
Linux pun semakin populer, pada tahun 1999 Red Hat dan VA Linux memberi penawaran publik untuk saham mereka. Penewaran pun ditanggapi publik dan kekayaan Linus pun melonjak hingga US$ 20.000.000.
Cucu penyair Ole Torvalds ini memang sosok yang renah hati, Linus tidak pernah merendahkan ataupun mencaci maki perangkat lunak lain, walaupun punya dia sangat diminati dan memiliki berbagai kelebihan.
Dimata hacker ada satu hal yang dibenci yaitu program Difital Rights Management (DRM), Linux mengadakan program tersebut di OSnya.
Linus Benedict Torvalds lahir di Helsinki, Finlandia. Anak dari jurnalis Anna dan Nils Torvalds. Keluarganya merupakan masayarakat berbahasa Swedia (minoritas Finlandia). Orang tua Linus adalah aktivis kampus di Universitas Helsinki. Konon nama Linus diambil dari nama Linus Pauling, seorang pemenang Nobel bidang kimia asal Amerika. Kalau linus suka mengatakan kalau nama Linus berasal dari salah satu nama tokoh kartun di komik Peanuts.
Linus merupakan suami dari sosok pemegang sabuk hitam karate yang pernah enam kali menjuarai kompetisi nasional di Finlandia, Tove Torvalds. Linus pertama kali bertemu dengan Tove pada musim gugur di tahun 1993, saat ia memberikan kursus komputer dan meminta kepada peserta untuk mengirim email ke dirinya dan termasuk Tove, dan sampai akhirnya mereka jatuh cinta. Linus memiliki tiga anak perempuan, yaotu Patrica Miranda, Daniela Yolanda, dan Caleste Amanda. Linus juga memiliki kucing yang diberi nama Mitharandir, dan memangil kucingnya dengan nama Randi (nama admin blog ini donk....hehehe).
Linus pernah tinggal di san Jose, california, Amerika Serikat bersama keluarganya selama beberapa tahun. Keika itu ia bekerja di Transmeta (perusahaan pengembang microproseor). Pda tahun 2004 ia bersama keluarga pindah ke Portland, Oregon, Amerika Serikat karena ia berkerja di Open Source Develompment Labs (OSDL).
Meski perannya cukup besar, pada akhirnya tak bisa dipungkiri bahwa Linus hanyalah salah satu dari ribuan hacker yang kebetulan ia menjadi sosok yang besar. Ia memang tokoh sentral, dan ddalam banyak hal keputusan yang diambilnya akan mempengaruhi hajat hidup para pengguna Linux, tapi Linus tidak akan menjelma bagai Bill Gates (Microsoft) atapun Steve Jobs (Apple). Linus menjadi besar karena ia memang memulainya dari hal yang kecil dan ia telah mengirimkan gerombolan pinguin untuk menguasai kerajaan software yang dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar.
Ketika linus menjadi seorang mahasiswa di Universitas Helsinki, Finlandia. Dia tinggal di sebuah asrama dekat kampus. Saat itu Linus sedang gandrung melakukan pengembangan komputer Minix (OS sejenis Unix) yang berada di kampus. Ketika musin dingin tiba, di Finlandia terjadi hujan salju yang cukup lebat dan udara pun membeku menjadikan Linus tidak bisa bolak-balik ke kampus untuk mengakses Minix yang ada di kampus. Karena keadaan itu akhirnya terlintas di benak Linus untuk menciptakan sistem operasi, yang kemudian diberi nama Linux.
Linus adalah seorang mahasiswa ilmu komputer. Pada awalnya Linus memberli komputer IBM-PC Intel 80386. Seperti layaknya seorang mahasiswa, maka hal yang pertama di gandrungsi dengan komputernya ialah game, pada waktu itu Linus sangat suka dengan game petualangan, seperti Prince of Persia. Saat mendapat Minix Linus berhenti menjadi maniak game. Kemudian Linus lebih sering mengotak-atik Minixnya, kemudian Linus membuat sendiri suatu operating system mirip Minix. Pada waktu itu dia mengajukan pertanyaan di forum USENET dengan judul sederhana, yang kurang lebih artinya "Apa yang paling anda inginkan di Minix?"
Isi pesan itu adalah mengajak pengguna USENET untuk berkontribusi terhadao sistem operasi mirip Minix yang dikembangkannya. Sistem operasi buatan Linus diletakkan pada sebuah server yang dikelola teman Linus yang bernama Ari Lemmke.
Ari Lemmke merupakan orang yang memberikan direktori bernama Linux yang digunkan Linus. Sebelumnya Linus ingin memberi nama Freax (Free yang artinya bebas ditambah dengan X yang menyatakan mirip Unix). Tapi karena lebih populer dengan nama Linux, Linus pun menggunakannya.
Linus memulai revolusi dengan menyediakan kode penyusunan kernel dari Linus untuk publik. Linus mengijinkan siapapun menggunakan dan mengembangkan kode tersebut selagi todak melanggat aturan dalam GOL (GNU General Public License). Mematuhi GPL diantaranya menyerahkan kembali kode yang dikembangkan untuk dimodifikasi bersama dengan pengguna lain.
Pada saat belasan tahun ia pernah mengunjungi sebuah kebun bintanag di Finlandia dan mengalami insiden yang kurang menyengkan. Linus dipatuk seekor pinguin. Hal ini menjadikan inspirasi untuk menjadikan pingun sebagai icon Linux. Pada tahun 1996, saat Linux memuncak di kalangan hacker dan pengembang, mereka ingin menjadikan logo resmi Linux. Lalu diadakan kontest secara online, kentes pembuatan logo Linux. Tovalds memilih logo pinguin gendut yang digarap oleh Tux. Para pecinta Linux pun menanggapinya dengan senang, dan akhirnya lambang tersebut diresmikan sebagai maskot OS open source tersebut.
Linux pun semakin populer, pada tahun 1999 Red Hat dan VA Linux memberi penawaran publik untuk saham mereka. Penewaran pun ditanggapi publik dan kekayaan Linus pun melonjak hingga US$ 20.000.000.
Cucu penyair Ole Torvalds ini memang sosok yang renah hati, Linus tidak pernah merendahkan ataupun mencaci maki perangkat lunak lain, walaupun punya dia sangat diminati dan memiliki berbagai kelebihan.
Dimata hacker ada satu hal yang dibenci yaitu program Difital Rights Management (DRM), Linux mengadakan program tersebut di OSnya.
Linus Benedict Torvalds lahir di Helsinki, Finlandia. Anak dari jurnalis Anna dan Nils Torvalds. Keluarganya merupakan masayarakat berbahasa Swedia (minoritas Finlandia). Orang tua Linus adalah aktivis kampus di Universitas Helsinki. Konon nama Linus diambil dari nama Linus Pauling, seorang pemenang Nobel bidang kimia asal Amerika. Kalau linus suka mengatakan kalau nama Linus berasal dari salah satu nama tokoh kartun di komik Peanuts.
Linus merupakan suami dari sosok pemegang sabuk hitam karate yang pernah enam kali menjuarai kompetisi nasional di Finlandia, Tove Torvalds. Linus pertama kali bertemu dengan Tove pada musim gugur di tahun 1993, saat ia memberikan kursus komputer dan meminta kepada peserta untuk mengirim email ke dirinya dan termasuk Tove, dan sampai akhirnya mereka jatuh cinta. Linus memiliki tiga anak perempuan, yaotu Patrica Miranda, Daniela Yolanda, dan Caleste Amanda. Linus juga memiliki kucing yang diberi nama Mitharandir, dan memangil kucingnya dengan nama Randi (nama admin blog ini donk....hehehe).
Linus pernah tinggal di san Jose, california, Amerika Serikat bersama keluarganya selama beberapa tahun. Keika itu ia bekerja di Transmeta (perusahaan pengembang microproseor). Pda tahun 2004 ia bersama keluarga pindah ke Portland, Oregon, Amerika Serikat karena ia berkerja di Open Source Develompment Labs (OSDL).
Meski perannya cukup besar, pada akhirnya tak bisa dipungkiri bahwa Linus hanyalah salah satu dari ribuan hacker yang kebetulan ia menjadi sosok yang besar. Ia memang tokoh sentral, dan ddalam banyak hal keputusan yang diambilnya akan mempengaruhi hajat hidup para pengguna Linux, tapi Linus tidak akan menjelma bagai Bill Gates (Microsoft) atapun Steve Jobs (Apple). Linus menjadi besar karena ia memang memulainya dari hal yang kecil dan ia telah mengirimkan gerombolan pinguin untuk menguasai kerajaan software yang dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar.
