Saya akan memulai artikel ini dengan berterima kasih, kepada penyumbang terbesar dalam transformasi di abad 21 ini:
Terima kasih teknologi, khususnya internet, kamu telah mengubah banyak hal di hidup kami, menjadi ujung tombak inovasi tanpa henti.
Let’s meet Zeezee.
Zevanna atau biasa dipanggil Zeezee adalah
seorang pengelola online shop untuk
kategori lifestyle. Lapak dagangannya
berisi berbagai jenis barang, mulai dari produk pakaian, sepatu, tas hingga
kebutuhan rias. Zeezee menjajakan dagangannya di berbagai kanal online di
Indonesia, mulai dari Tokopedia, Shopee, Bukalapak, hingga BerryBenka. Kualitas
produk yang menjanjikan menjadikan traksi di toko daring miliki Zeezee tak
pernah sepi pelanggan.
Sebagai pekerja kantoran, awalnya toko
daring tersebut hanya menjadi sampingan, namun karena dapat menghasilkan “uang
jajan” yang lumayan, akhirnya di sela waktu bekerja ia memfokuskan untuk
mengurusnya. Namun lama-lama Zeezee merasa tidak punya hidup lagi, lantaran
setiap weekend harus kerja, tidak
pernah update ke bioskop untuk film
baru, apalagi piknik. Dari situ Zeezee memutuskan untuk merekrut pegawai untuk freelance bekerja di toko daringnya.
Awalnya terlihat mudah, mengandalkan
aplikasi WhatsApp ia mengelola lima orang anggota tim. Namun seiring traksi
pelanggan yang terus meningkat, Zeezee pun pada akhirnya dipusingkan dalam hal
manajerial, seperti: mengurus kas masuk, mengelola stok barang dan
berkomunikasi dengan masing-masing pegawai lantaran dua berada di Jakarta dan lainnya
di Bandung. Hingga akhirnya keruwetan ini diceritakan kepada sahabatnya
Nandika, seorang UX Specialist untuk perusahaan ride-sharing lokal di Indonesia.
Setelah memahami permasalahannya, Nandika
menyarankan untuk mengoptimalkan pemanfaatan teknologi dalam operasional toko
daring milik Zeezee secara menyeluruh. Setidaknya membentuk skema sebagai
berikut:
Selama ini tiga kegiatan utama dalam
bisnis Zeezee dilakukan secara remote
menggunakan sistem tunggal, yakni WhatsApp. Dengan ini Nandika menyarankan
untuk mengimplementasikan sistem berbeda untuk setiap lini operasi. Untuk
kebutuhan komunikasi, kanal email dan
Skype yang dipilih, khususnya untuk komunikasi dengan pihak luar, termasuk
pelanggan, distributor dan admin penyedia
layanan toko daring. Harapannya membentuk sebuah pola kerja yang lebih
terstruktur di antara tim toko daring Zeezee.
Di lini internal, dua perangkat lunak
diterapkan untuk berkolaborasi yakni Slack untuk berbincang secara daring
bersama-sama, dan Wunderlist untuk mengatur penugasan masing-masing orang.
Setidaknya sekarang Zeezee jadi tahu apa yang sedang terjadi di toko daringnya
setiap saat, dan pekerjaan apa yang sedang dikerjakan, sudah dikerjakan dan
melewati deadline. Semua bisa
dipantau melalui ponsel pintar yang tak pernah luput dari genggamannya, di mana
saja.
Untuk membuat produktivitas makin terukur,
Nandika menyarankan untuk menggunakan Point on Sales (POS), dalam hal ini
menggunakan aplikasi milik Moka. Lalu untuk manajerial pegawai, Nandika
menyarankan untuk menggunakan aplikasi daring Talenta, buatan pengembang lokal
juga. Dari sini Zeezee dapat selalu melihat arus jual beli dan juga performa
pegawainya yang tersebar di dua kota tersebut. Sama, melalui ponsel pintar
miliknya, kapan saja di mana saja saat ia sempat.
Toko daring milik Zeezee pun kini
terkelola dengan baik, sementara Zeezee tetap bisa melakukan kewajibannya
sebagai pegawai kantor dan berlibur di hari Sabtu dan Minggu. Teknologi
membuatnya efisien, jika tahu porsi yang benar. Karena di awal pun Zeezee juga
menggunakan teknologi, yakni WhatsApp, tapi kurang tepat untuk mengakomodasi
seluruh aktivitas tersebut.
Then, meet Kenari.
Kenari adalah keponakan dari Zeezee yang
sedang berkuliah di Universitas Indonesia. Di semester akhir, Kenari masih
disibukkan dengan urusan skripsi. Jadwal kuliahnya sudah habis, ke kampus
biasanya hanya untuk bertemu dosen pembimbing. Akhirnya ia memutuskan untuk
membantu tantenya sebagai freelance
mengurus tokonya dari Jakarta. Sehari-hari ia membagi waktu untuk mengerjakan
skripsi dan mengelola toko daring miliki Zeezee.
Dalam sebuah kesempatan, Kenari hadir ke
dalam acara Echelon yang diadakan di Jakarta. Tujuannya untuk bertemu dengan seorang
Co-Founder Traveloka yang mengurusi bidang finansial. Skripsi yang sedang disusun
Kenari membutuhkan studi kasus tentang penerapan arus kas pada sebuah perusahaan Online Travel Agency. Tak disengaja, di sana
bertemu dengan sebuah booth milik EV
Hive, hingga akhir mengetahui tentang Co-Working Space dan manfaatnya.
Penjelasan yang diutarakan oleh petugas
dari EV Hive setidaknya menekankan pada beberapa hal, terkait keuntungan
menjadikan Co-Working Space untuk tempat produktivitas. Digambarkan dalam bagan
berikut ini:
Sejak saat itu Kenari mulai rajin ke
Co-Working Space, untuk menyelesaikan skripsi sembari bekerja mengurus toko
daring milik Zeezee. Benar saja, first
impression Kenari terletak kepada sebuah ruang kerja yang sangat modis,
berfurnitur unik dan nyaman. Didukung konektivitas internet yang begitu
kencang, mendukung produktivitas Kenari untuk mengelola toko daring milik
tantenya, dengan berbagai aplikasi yang sangat bergantung dengan konektivitas. JSC
Hive Coworking Space dipilih di antara 6 lokasi yang dimiliki EV Hive, karena
letaknya strategis di kawasan Kuningan, tepatnya Jl. Prof. DR. Satrio No.7
Jakarta Selatan.
Info lebih lanjut seputar EV Hive dapat dilihat melalui situs resminya: https://evhive.co.
Tempat yang nyaman berhasil membawa Kenari
pada produktivitas. Namun ternyata di sana Kenari bertemu banyak orang, di
antaranya juga sedang beraktivitas sama, semester akhir dan sedang memulai
merintis usahanya. Kenari pun diajak berkenalan sekaligus dikenalkan dengan
beberapa mentor yang ada di sana yang membimbing sang rekan dalam mengembangkan
bisnis. Banyak yang didapat, salah satunya tentang Facebook Advertising.
EV Hive kebetulan saat itu tengah
mengadakan kelas intensif untuk Facebook Advertising, dengan memberikan
introduksi ke Zeezee seputar manfaatnya untuk mengakselerasi bisnis toko daring
miliknya, akhirnya Kenari diberikan biaya untuk mengikuti kelas intensif
tersebut. Benar saja, mentor yang disajikan berhasil memberikan banyak inisghts seputar teknik iklan yang
sedang menjadi primadona tersebut. Dari situ, di tempat yang sama, Kenari telah
berhasil mendapatkan dua hal secara bersamaan, yakni produktivitas dan
pengalaman baru yang belum pernah diketahui sebelumnya.
Selain agenda yang telah terstruktur dalam
kelas workshop khusus, di EV Hive juga sering diadakan berbagai acara, misalnya
seperti yang diikuti oleh Kenari, yakni workshop mengasah kemampuan pemasaran
digital. Dan masih banyak lagi acara rutin yang diselenggarakan. Di berbagai
sesi networking Kenari juga bertemu
dengan orang baru, termasuk dari jajaran pengusaha, korporasi hingga investor.
Salah satunya dari East Ventures, sebuah perusahaan investasi yang juga
memiliki basis di Indonesia, yang menjadi penyangga di balik EV Hive dan
beberapa startup keren di Indonesia. Di sini apa yang Kenari dapatkan ialah
pengetahuan, yang tidak pernah ia temukan di bangku kuliah, dan langsung dari
para narasumber yang berkutat sehari-hari di bidang tersebut.
***
Pada akhirnya, kembali harus mengucapkan
terima kasih.
Terima kasih teknologi, khususnya internet, kamu telah mengubah banyak hal di hidup kami, menjadi ujung tombak inovasi tanpa henti. Terima kasih juga Co-Working Space, telah menjadi fasilitas produktif nan membangun diri.
—
Thanks
Randi Eka Yonida, for inviting me to this competition.


