- Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) per tahun 2016 ada sekitar 132,7 juta pengguna internet di Indonesia, dengan persentase tertinggi 62 persen berasal dari kalangan produktif (pekerja).
- Menurut hasil penelitian Bank Indonesia, sepanjang tahun 2016 layanan e-commerce telah melakukan perputaran perbelanjaan sekitar Rp75 triliun atau jika dibagi per individu pengguna e-commerce di Indonesia rata-rata membelanjakan Rp3 juta per tahun.
Dari data di atas setidaknya membukakan sebuah fakta, bahwa terjadi peningkatan yang signifikan terhadap konsumsi masyarakat yang diakibatkan oleh pergeseran digital. Jika diamati secara lebih mendalam, dari korelasi kedua data di atas, yang membuat orang menjadi lebih “enteng” untuk membayarkan sesuatu adalah sebuah kemudahan akses. Dengan layanan jual beli, orang dapat menemukan berbagai barang dari mana dan kapan saja, hingga melakukan proses pembayaran dengan berbagai cara.
Studi kasus e-commerce mungkin masih dinilai terlalu mengerucut segmentasinya, baik kita akan coba lihat data selanjutnya, berikut:

Ya, pada sektor lain –yakni transportasi publik—disrupsi teknologi berhasil memberikan hasil signifikan untuk para pemainnya. Setiap Minggu, GO-JEK memiliki 11 juta lebih pengguna aktif di Indonesia. Lantas apa yang memotivasi 11 juta orang tersebut? Jawabannya masih sama, sebuah kemudahan akses yang dipadukan dengan efisiensi. Lantas apa yang telah didapat sektor e-commerce dan on-demand ini bisa direplikasi ke vertikal lain?
Sekali lagi, kunci adopsi teknologi adalah memberikan kemudahan pengguna
Sebelum ada layanan on-demand semacam GO-JEK, kebanyakan orang –mungkin kita sendiri juga merasakan—cukup enggak menggunakan jasa ojek. Selain harganya suka random, rasa aman pun serasa kurang. Apa yang dilakukan GO-JEK ialah membuat sebuah sistem yang memberikan standardisasi untuk layanan ojek secara end-to-end, mulai mengatur tarif layanan, prosedur pelayanan, hingga jaminan kualitas layanan. Sekarang orang menjadi lebih gemar menggunakan layanan ojek dan layanan turunan lainnya yang mengandalkan ojek –pesan makanan, jasa antar dan sebagainya.
Dari data yang disampaikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Oktober 2016, tingkat penggunaan asuransi oleh masyarakat Indonesia baru 11,81 persen. Artinya masih ada potensi pasar sebesar 88,19 persen. Tantangannya cukup beragam, mulai dari yang paling klasik –seperti edukasi pengguna akan pentingnya proteksi jiwa—hingga yang paling kompleks, yaitu proses distribusi dan penyampaian layanan kepada berbagai tipe masyarakat. Menariknya tekfin (teknologi finansial) juga tengah menjadi tren teknologi di Indonesia tahun 2017 ini.
Menjadikan pemesanan layanan asuransi semudah membeli baju di Tokopedia
Permasalahan distribusi yang belum maksimal dapat dijembatani dengan menghadirkan kanal akses yang lebih mudah. Salah satu mekanismenya ialah dengan menghadirkan sebuah platform berbasis marketplace online. Ada beberapa alasan mendasar tentang pemilihan platform tersebut. Pertama, masyarakat Indonesia –khususnya di kancah konsumen aktif—telah terbiasa dengan sistem tersebut. Kedua, smartphone telah naik level dari daftar kebutuhan tersier ke sekunder, sehingga penyampaiannya akan lebih terukur. Dan ketiga, lebih mudah dipasarkan melalui berbagai kanal dan strategi branding.
Beberapa inovator telah mencuri langkah awal, sebut saja Futuready, PasarPolis, RajaPremi, atau CekAja –sebagai sebuah startup digital, mereka coba menawarkan model bisnis penawaran asuransi melalui sambungan digital. Ini menjadi sebuah revolusi yang menarik, pasalnya –penulis pun merasakan—orang kini menjadi lebih mudah untuk memahami tentang produk asuransi apa yang dibutuhkan, bahkan mengetahui proyeksi harga yang ditawarkan. Selama ini orang “takut” pada asuransi, salah satunya karena dikira mahal biaya bulanannya. Jadi secara tidak langsung platform distribusi tersebut menghadirkan dua hal bersamaan kepada konsumen, edukasi produk dan saluran penjualan.
Perlu optimasi, berupa kolaborasi antar pihak yang saling terkait dalam industri asuransi
Mengapa e-commerce bisa sepesat sekarang? Jawaban kasat mata karena adanya sinergi yang sangat kuat dalam perputaran industri tersebut. Tokopedia hanya akan menjadi sebuah paltform, tanpa adanya merchant yang mengisi, reseller yang membantu pemasaran program melalui affiliate, atau logistik yang membuat penyampaian layanan menjadi lebih kencang. Pun demikian GO-JEK hanya akan menjadi sebuah aplikasi kosong jika tanpa dukungan mitra pengemudi, sistem rating yang meyakinkan pengguna, atau layanan GO-PAY yang memudahkan pembayaran.
Jika model bisnis asuransi digital ingin menjadi masif seperti dua layanan di atas, apa saja yang perlu diimprovisasi? Ada beberapa poin menurut pandangan penulis yang dapat dioptimalkan, sebagai berikut:
- Komitmen bersama antara penyedia platform, perusahaan asuransi dan berbagai pihak yang ada di lapangan untuk mengoptimalkan layanan. Termasuk melakukan sosialisasi, mengarahkan pengguna pada proses digital yang lebih sederhana, dan melengkapi jajaran produk secara konsisten.
- Inovasi adalah bagian paling mendasar dari sebuah layanan digital. Setiap platform setidaknya harus memiliki komponen yang memudahkan pengguna. Kondisinya layanan asuransi masih sangar baru bagi banyak orang, maka di platform tersebut setidaknya harus ada sistem edukasi interaktif yang mampu menjawab berbagai pertanyaan dari pelanggan. Idenya dengan menghadirkan sebuah chatbot yang mampu memberikan jawaban cepat dan lugas terhadap setiap kebutuhan pelanggan.
- Sistem pembayaran tak kalah penting untuk menjadi sebuah penentu. Layaknya GO-PAY, platform asuransi dapat mendesain sebuah sistem digital wallet sehingga membuat transaksi menjadi lebih efisien. Layanan semacam ini sebenarnya secara tidak langsung membuat orang menjadi adiktif dan konsumtif terhadap layanan tertentu yang disajikan.
Internet membuat batasan komunikasi menjadi sangat tipis. Penyampaian produk adalah salah satu dari proses komunikasi, antara penyedia bisnis ke pelanggan. Dengan mematangkan konsep digital, konsumen pun akan semakin mudah mengakses, di samping kemudahan penyedia layanan dalam proses pemasaran dan distribusi.
